Boni Hargens, Direktur Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) : Memilih Melampaui Hoaks

Hoaks atau kabar bohong telah membanjin ruang sosial. Para ahli menyebut ini ciri era baru yang disebut post-truth society.

Suatu masyarakat yang enggan mengakui standar,lama dalam menafšir kebenaran dan cenderung secara subyektfif merumuskan” kebenaran parsial yang menabrak kesepakatan sosial tentang ‘semua hal, termasuk tentang tesis mordlitu sendiri.

Hal itu diungkapkan dalam Press Realese yang diterima oleh Berita Global pada siang ini di Gado-Gado Boplo, Jl.Satrio, Kuningan, Jakarta Selatan ( 11/01/19).

Dalam masyarakat pasca-fakta ini, menurut Boni, politik menjadi ruang berkecamuknya kabar bohong dan kabar benar: narasi baik dan buruk: intensi positif dan intensi negatif.

Para politisi melihat kondisi ini sebogai peluang unfok meraih kekuasaan. Logika curang dan strategi kebohongan menjadi trend boru yang dibungkus demgan istilah “negafive campaign yang sebetulnya dalam praksis menjadi “black campaign” alias kampanye hitam.

Semua dianggap wajar karena politik
demokrasi elektoral dipahami sebagai pertarungan menang-kalah, bukan benar-salah. Logika progmatisme menjadi arus utama.

Hoaks tentang tujuh kontainer surat suara yang dihembuskan lewat akun medsos kader Demokrat, Andi Arief, saat ini menambah rumit ruang poltik tetapi tetap saja dinikmati sebagai pertunjukan wajar oleh para politisi pecundang.

Lembaga Pemilih Indonesia mengapresiasi kerja keras Polri dalam menangani kasus ini dan kasus lain sebelumnya. Apakah dengan itu hoaks akan berhenti?

Sebagai skenario politik, hoaks tetaplah sebuah strategi. Pelaku hanya berhenti ketika kekuasaan diraih. Karena tujuan dari semua itu adalah kekuasaan, Sama seperti agama yang didagangkan atau sentimen etnik yang dipolitisir.

Apakah itu artinya hoaks kontainer surat suara itu by design?Ya. itu bukan soal benar atau salah, tapi soal bagaima membentuk persepsi publik. Hoaks Ini skenario memenangkan
sepsipubik.

Hati-hati, di banyak negara, pola ini sudah sukses menghantar pecundang menjadi presiden atau perdana menteri. Preseden itu yg meningkatkan libido pará pecundang dalam kasus kontainer ini.

Maka, yang harus dikail adalah motif politik dan afiliási para penyebar hoaks dengan partai atau tim kampanye politik.

Pasti ada sambungnnya. Polisi mesti menyasar design besar di balik itu sehingga kasus ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi pembangunan kesadaran politik masyarakat. Mereka yang rasional akan marah dan yang kurang rasional mungkin terpengaruh oleh hoaks ini. 

(bnh/pr/ivn/bg)

Artikel Terkait

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *