Politik Identitas dengan Metode Hoaks dan Ujaran Kebencian Ancam Perpecahan Bangsa

Jakarta, Berita Global – Politik identitas masih mewarnai pemilihan umum serentak pada 2019 ini. Beberapa pihak menganggap politik identitas ampuh untuk mengalahkan saingannya dalam merebut kekuasaan seperti di negara Amerika Serikat dan beberapa negara lainnya.

Menurut Bondan Wicaksono, Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Pemuda Katolik dan juga Ketua Komda Pemuda Katolik DKI Jakarta, di indonesia, meski dengan era terbuka tehnologi  tidak menentukan kemenangan elektoral secara defakto,  Politik identitas sangat berpengaruh dikarenakan kondisi ekonomi  yang menjadikan media sosial dan ilmu tekhnologi untuk mendukung dalam kemenangan.

“sangat signifikan sekali untuk indonesia, apalagi hampir mayoritas penduduk indonesia memegang handphone, tehnologi internet jadi sangat efektif sekali menjangkau semua orang,” ujarnya usai acara diskusi Forum Kemitraan Ormas yang bertema ” Penguatan Nilai-Nilai Kebangsaan kepada pemuda untuk Menjaga Keutuhan NKRI”  di Hotel Aryaduta, Jakarta Pusat ( 07/02/19).

Bondan melihat Sosialisasi media tehnologi dapat menjadi suatu hal yang sangat mudah di jangkau dan sangat mungkin digunakan untuk kepentingan politik.

Dengan adanya tingkat pendidikan masyarakat yang dinilainya masih minim, dan tingkat literasi media sosial atau media literasi digital, Politik identitas dengan metode hoaks melontarkan ujaran kebencian bisa berpengaruh terhadap gejolak politik di indonesia berpotensi memecah belah bangsa.

“karna buktinya dari beberapa lembaga riset banyak indikasi atau korban katakanlah masyarakat yg tidak mengetahui berita valid sehingga mengikuti arus dan menjadi salah satu bagian korban hoax. Bahkan malah tidak sengaja dia menjadi pelaku hoax itu sendiri karena ikut-ikutan,” tuturnya.

Oleh sebab itu, lanjut Bondan, budaya harus dijadikan benteng  untuk mengantisipasi hoax yang berpotensi memecah belah bangsa. ” dengan adanya kekayaan indonesia beragam punya warisan leluhur yang sangat banyak menjadika budaya itu salah satu benteng yang seharusnya menjadi salah satu alat untuk melawan hoax itu sediri.

Misalnya, Lanjut Bondan,dari hal-hal tradisonal, kearifan budaya lokal harus di himbaukan dan di kenalkan pada setiap generasi. “jadi, misalkan hoaxnya yg menyasar kepada hal kebudayaan yang berbeda, apalagi menyangkut politik identititas sering di mainkan oleh para pelaku-pelaku tersebut. Maka  budaya salah satu alat untuk menjadi benteng melawan hoax,” terangnya.

Soal penangulangan hoax,menurut Bondan, di indonesia diperlukan sinergi banyak kemitraan instansi pemerintahan maupun kemasyarakatan. karna memang hoax dalam kalangan masyarakat yang sebetulnya tidak mengetahui, justru malah menjadi sebuah ancaman.

“Beberapa upaya yg di lakukan badan cyber seperti kepolisian atupun yg di lakukan oleh panwaslu terkait pemilu ini sudah menunjukan progresnya. Hanya perlu di tingkatkan lagi kemananya itu juga mesti bekerja sama dengan media2 cyber yg ada di indonesia dan juga mitranya perlu di tingkatkan bukan hanya di perkotaan, tetapi juga di pedesaan, karna klo di daerah-daerah itu itu khan banyak sekali orang bisa terjebak begitu saja dengan berita-berita yang tidak benar soal ujaran-ujaran yang memecah belah.

Jadi, perlu ada kebijakan  baik dari kementrian komunikasi dan tekhnologi, lalu polri, Bawaslu, juga dilingkungan pendidikan perlu ada peningkatan pendidikan anti hoax dan juga ormas-ormas juga perlu banyak kegiatan mengedukasi lagi warga masyarakat tentang bahaya hoax yang bisa mengancam perpecahan antar masyarakat.

Sementara, Direktur Standarisasi Materi dan  Metode Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Akbar Hadi berpendapat Politik identitas menggunakan cara-cara hoax dengan ujaran kebencian harus dihindari, karena di Indonesia mempunyai kebudayaan sendiri yang mungkin sering  dilupakan, yaitu “mikul duwur mendem njero.”

“Sebaiknya, sebagai sesama anak bangsa menyikapi  pemilu ini dengan penuh kegembiraan, jangan sampai dirusak oleh politik identitas. Menyebarkan berita fitnah ataupun ujaran kebencian terhadap salah satu kontestan. Hoax itu  sebenarnya bukan dari warisan’ budaya kita,” kata Akbar.

Seiring berjalannya waktu, masyarakat Indonesia semakin cerdas siapa yang bisa menjadi wakil mereka adalah orang yang memang tidak punya kepentingan dan tidak terbiasa dengan hal – hal yang demikian.

“Budaya – budaya kegotong royongan, kemudian budaya toleransi, kemudian budaya – budaya saling menghargai itu khan tentunya budaya yang diwariskan oleh para nenek moyang kita.

Ketika mereka sudah berfikir untuk dirinya sendiri dan kelompoknya, artinya tidak sesuai dengan nilai-nilai yang ditanamkan oleh para nenek moyang kita.

“Budaya Indonesia yang seharusnya memberikan motivasi, memberikan semangat. Jadi yang dicari adalah bukan mencari bagaimana menjatuhkan lawan politiknya, tetapi bagaimana kita saling beradu program untuk untuk Indonesia yang lebih baik lagi. Itulah yang diharapkan,” ungkapnya.

Akbar berharap kepada pemilih nanti harus lebih cerdas ”  Jaman sekarang ini , kaum milenial yang sehari – hari lebih banyak menerima informasi dari gadget , diharapkan mereka bisa memilih mana yang kira-kira bisa menjadi pemimpinnya,” harapnya. ( ivan/bg )

Artikel Terkait

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *