Pendidikan Anak Jalanan dan Wakaf Ilmu

Mahasiswa Program Beasiswa Bidikmisi IAIN Metro Lampung melakukan Student Mobility Program (SMP) ke tiga negara tetangga Indonesia yaitu Singapura, Malaysia dan Thailand. Hari perama, mereka mengunjungi College Islamic Muhammadiyah yang dalam bahasa Melayu dikenal juga dengan Kolej Islam Muhammadiyah (KIM) Singapura.

Mahasiswa yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Besar Mahasiswa Bidikmisi (IKABIM) IAIN Metro Lampung ini diterima Ustadz Islahudin dan Muhammad Muhyi, Dosen Islaimic Studies. Kepada mahasiswa, berbagi info tentang pendidikan bagi anak jalanan.

“KIM mempunyai perhatian yang cukup besar pada anak-anak jalanan, terlantar dan kaum dhua’afa,” paparnya, Senin (12/03).

“Untuk pembiayaan pendidikannya, masyarakat muslim Singapura mengelola dana wakaf ilmu, yang diperuntukan untuk membangun masjid dan madrasah serta pengembangan pendidikan Islam,” sambungnya.

Selain itu, KIM Singapura juga membuka Prodi Adminsitrasi Bisnis pada Jurusan Mu’amalah yang kebanyakan mahasiswanya berasal dari Tenaga Kerja Indonesia (TKI) muslim. Selain kuliah, para mahasiswa TKI itu juga mendapatkan pendidikan baca tulis Alquran serta dasar-dasar agama Islam. Mereka mengikuti perkuliahan pada hari Sabtu dan Minggu.

Islahudin mengatakan, Persatuan Muhammadiyah Singapura didirikan pada tanggal 25 Desember 1957. Pada mulanya bergerak dalam dakwah Islam bagi warga muslim Melayu di Singapura. Lalu berkembang mendirikan perguruan tinggi KIM sekitar tahun 2002 berkat bantuan IAIN Imam Bonjol Padang.

SMP dilaksanakan selama satu minggu, 11 – 17 Maret 2018. Program ini diikuti 72 mahasiswa Bidikmisi angkatan 2014 dan 2015 serta 9 orang pendamping. SMP untuk peserta Bidikmisi adalah kali pertama, sedangkan untuk Program Pascasarjana (S2) untuk kali ketujuh.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama IAIN Metro Ida Umami mengapresiasi kesediaan KIM menjalinan kerjasama dengan IAIN Metro yang sudah berlangsung delapan tahun. “Kami berterimkasih atas jalinan kerjasama yang selama ini dibangun antara KIM dengan IAIN Metro, baik dalam bidang pendidikan, riset maupun kemahasiswaan,” kata Ida.

Ida Umami mengaku terkesan dengan program pemberian pendidikan pada anak jalanan yang diselenggarakan KIM dan wakaf ilmu. “Langkah ini bisa dikembangkan di IAIN Metro dan PTKI di Indonesia,” kata Pakar Bimbingan Konseling Islam ini.

Selian KIM, peserta SMP juga mengunjungi Masjid Sultan yang berlokasi di Jalan Arab. Masjid Sultan merupakan satu-satunya masjid yang mendapat ijin mengumandangkan adzan memakai pengeras suara oleh pemerintah Singapura dari tujuh masjid yang ada.

Menurut penuturan seorang jamaah, masjid ini juga menjadi tempat dialog dan pertemuan lintas agama yang ada di Singapura. Walaupun jumlah muslim di sini hanya 19 persen, namun kerap menjadi harapan bagi terciptanya harmonisasi agama di Singapura.

Kepala Seksi Kemahasiswaan Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Ruchman Basori mengatakan, membekali mahasiswa dengan berbagai ilmu, pengalaman dan kepedulian sangat penting. Salah satunya melalui hubungan lintas budaya dan peradaban.

“SMP akan melatih mahasiswa kreatif dan inovatif membaca zaman dan sekaligus menyikapinya,” harapnya.

Kepada para mahasiswa, Ruchman berpesan untuk belajar dengan siapapun dan dari manapun karena Tuhan akan membuka ilmu dari segenap penjuru. “Ayat-ayat Allah baik yang qauliyah dan kauniyah adalah bekal terbaik untuk menjadi pemimpin di masa depan,” tuturnya.

Rombongan IAIN Metro didampingi oleh Kepala Biro Adminsitrasi Umum Akademik dan Kemahasiswaan (AUAK) Zahdi Taher, Wakil Dekan III Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Yudiyanto, Wakil Dekan III Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Nizarudin , Wakil Dekan II Fakultas Syariah Netty Hermawati, Ketua Jurusan PAI Pascasarjana Sri Andri Astuti, serta Imam Purwoko dan Haris Setiadji JFU IAIN Metro. (RB/Kemenag)

Artikel Terkait

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *