Rabu, 05 Januari 2011 - 01:11:35 WIB Ramah, Kunci Sukses Pimpin Wilayah Reporter : Redaksi
Jakarta, Berita Global. Com
Suntoro Lurah Mampangprapatan
Menjadi seorang pamong tidak cukup hanya bermodalkan pengetahuan dan pengalaman semata. Tapi, keramahtamahan kepada warga tetap menjadi kunci utama untuk bisa sukses memimpin suatu wilayah seperti yang dilakukan Lurah Mampangprapatan Suntoro. Berkat sikap ramah kepada warga pula, kompleksitas permasalahan di wilayah yang tadinya berat bisa menjadi ringan, karena adanya rasa kedekatan warga dengan pemimpinnya sendiri.
Dengan keramahannya itu, hingga saat ini Suntoro pun masih tetap dikenal dan dihormati oleh warga di Kelurahan Tebettimur. Padahal wilayah itu sudah ditinggalkannya sejak enam tahun silam saat ia menjadi lurah pada 1998-2004. Sikap ramah itu pula yang diterapkannya saat menjadi lurah di Kelurahan Cipeteselatan pada 2004-2007, dan hingga kini menjabat sebagai lurah di Kelurahan Mampangprapatan.
"Saat saya mampir ke Kelurahan Tebettimur alhamdulillah hampir semua warga masih mengenal saya. Tidak hanya itu, mereka pun juga ramah dan masih menghormati saya," cerita bapak dua anak ini kepada beritajakarta.com, Jumat (17/9).
Suntoro menganggap masyarakat adalah bagian dari program-program yang dijalankannya. Sehingga ia terus berusaha mengajak warga untuk berpartisipasi dalam pembangunan wilayahnya. Sebab, sebagus apa pun program yang dibuat, tanpa partisipasi dari masyarakat akan sulit menjalankannya.
Ia berpedoman harus merangkul semua lapisan masyarakat, termasuk juga preman yang sering mengganggu ketentraman warga. Meskipun awalnya tidak mempunyai sifat ramah, tetapi sebagai seorang pemimpin tetap harus belajar menjadi ramah. Selain ramah seorang pemimpin menurut Suntoro perlu juga memiliki sifat supel.
Kesemua itu dilakukan bukan hanya semata-mata demi tugas, tetapi merupakan amanah. Dalam setiap kesempatan bertemu dengan warganya, Suntoro berusaha untuk banyak menyapa dan menegur karena itu merupakan salah satu kuncinya. "Meskipun hanya melintas tetap harus menyapa. Kalau punya watak tidak bisa ramah tetap harus dipaksakan," terang pria kelahiran Jakarta, 18 Juni 1955 ini.
Motto yang selalu dijalankannya selama ini yakni JOT yang berarti Jueh (tidak bosan-bosan), Open (tanggap), dan Telaten (sabar). Contoh kecil dari mottonya yakni, ia tidak bosan-bosan mengajak warganya melakukan penghijauan, membuat lubang biopori, melakukan PSN, dan lain sebagainya. Ia mengatakan setiap ada kesempatan bertemu dengan warga selalu mengajak hal yang sama.
Keramahannya itu juga didukung dengan hobi yang dimilikinya yakni travelling. Terlebih dirinya lebih menyukai berjalan kaki saat berada di tempat yang dikunjunginya. Karena dengan berjalan kaki selain murah meriah dan sehat, dirinya juga bisa lebih banyak berinteraksi dengan lingkungan. "Jika berjalan kaki akan banyak cerita yang saya peroleh dibanding naik kendaraan," ujar lurah yang tahun depan akan pensiun ini.
Terkait dengan hobinya, Suntoro mengaku telah mengunjungi berbagai kota-kota di dalam dan luar negeri. Beberapa negara yang pernah dikunjunginya yakni Cina, Hongkong, dan Singapura. Meskipun telah berwisata ke luar negeri, tempat wisata di Indonesia dinilainya jauh lebih baik. Terlebih, dirinya lebih menyukai datang ke tempat wisata yang menyajikan keindahan alam.
"Wisata alam yang ada di Indonesia jauh lebih baik dibanding yang ada di luar negeri. Saya bangga Indonesia mempunyai kekayaan alam seperti ini," tandas pria yang menyelesaikan S1 di STIA LAN ini.
Sumnber : Berita Jkt/ Red BGC
 0 Komentar :
Isi Komentar :
|