Rabu, 05 Januari 2011 - 00:57:35 WIB Demi Tugas Sering Tinggalkan Keluarga Reporter : Redaksi
Berita Global. Com
R Yakub Lurah Kelapadua Wetan
Menjadi seorang pamong, sebenarnya bukan menjadi cita-cita R Yakub, Lurah Kelapadua Wetan, Ciracas, Jakarta Timur. Sebab sejak kecil, dirinya bercita-cita ingin menjadi dokter. Kendati begitu, ia tetap saja melakoni profesinya itu dengan tekun. Sebagai abdi negara, ia berusaha semaksimal mungkin menjalankan tugas dan tanggungjawabnya sesuai dengan tugas pokok dan fungsi (tupoksi). Bahkan, lantaran tugas yang diembannya, tak jarang ia meninggalkan keluarga tercinta demi melayani warganya. Tidak hanya itu, tugas berat yang dilakoninya, pernah juga membuatnya akan berurusan dengan pihak kepolisian karena ingin dilaporkan warganya yang pagar temboknya jebol lantaran banjir yang melanda wilayah Kelapadua Wetan belum lama ini.
Suami dari Safiatus Hardjo ini mengawali kariernya sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di kantor Walikota Jakarta Timur, sebagai staf di bagian pemerintahan pada tahun 1986. Belum genap setahun, oleh pimpinaanya waktu itu, ia kemudian dimutasikan ke kantor Kecamatan Jatinegara. Jabatannya pun masih sama, yakni hanya sebagai staf. Maklum, saat mendaftar sebagai PNS, ia hanya mengantongi ijazah SMA yang diperolehnya pada tahun 1980 silam.
Sebagai pegawai yang masih bergolongan IIa, ia pun terus berusaha maksimal mengabdi kepada negara. Setelah kurang lebih delapan tahun berkarya di kantor Kecamatan Jatinegara, pada tahun 1994 ia dipromosikan menjadi Kepala Urusan Umum di kantor Kelurahan Balimester. Namun, sebelum berkantor di Kelurahan Balimester, diam-diam ayah dua anak ini mulai memikirkan bagaimana caranya agar dapat memiliki ijazah sarjana atau dapat menempuh jenjang pendidikan strata satu. Makanya, begitu ada peluang, ia mencoba untuk kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Administras Negara (STIA) LAN Jakarta.
Sambil bekerja, ia juga terus berkonsentrasi untuk menempuh pendidikan formalnya, demi meraih gelar S1. Ketekunan menimba ilmu ini pun tak sia-sia, buktinya pada tahun 1997 ia berhasil lulus dan meraih gelar Sarjana Sosial. Ijazah yang dikantonginya itu pun agaknya menambah semangat lelaki yang memiliki hobi bermain sepak bola dan catur ini untuk terus bekerja. Pada tahun 2000, ia akhirnya dipromosikan menjadi Kepala Urusan Kesra di kantor Kelurahan Cipinangbesar Utara.
Nasib mujur sepertinya masih terus berpihak pada lelaki kelahiran Jakarta 3 Maret 1961 ini. Buktinya, setahun kemudian atau tahun 2001, ia dipromosikan menjadi Kepala sub Seksi Pemerintahan di kantor Kelurahan Cipinangbesar Utara. Saat itulah ia mencoba memanfaatkan peluang yang ada untuk mengikuti pendidikan administrasi umum tahun 2001 yang digelar Pemprov DKI Jakarta. Usai mengikuti pendidikan administrasi umum, dirinya kembali berpikir untuk kembali melanjutkan pendidikannya. Peluang yang ada pun dimanfaatkan untuk melanjutkan pendidikan S2 di Universitas Borobudur. Pada tahun 2002, ia pun akhirnya meraih gelas S2 dengan menamatkan pendidikannya di Universitas Borobudur.
Di tahun yang sama pula, dirinya dipromosikan menjadi sekretaris lurah di Kelurahan Rawaterate, Cakung. Empat tahun kemudian ia kembali mendapatkan promosi menjadi Wakil Lurah Cipinang. “Sebenarnya cita-cita kecil saya itu ingin menjadi dokter. Namun takdir berkehendak lain dan malah menjadikan saya sebagai seorang pamong. Tentu saja saya menjalaninya dengan senang hati, karena apapun jabatan yang diemban setiap orang, pada hakikatnya adalah amanah dari Allah SWT,” ujar Yakub pada beritajakarta.com.
Ia sendiri menjabat sebagi Lurah Kelapadua Wetan sejak tahun 2009. Banyak suka duka yang dialaminya selama menjadi pamong di daerah yang masih cukup asri ini. Ia juga menuturkan, beberapa rekan satu angkatannya, saat ini malah sudah banyak yang menjadi camat hingga asisten di tingkat kota. Melihat hal itu, ia tidak merasa iri, justru semakin terpacu untuk terus berkarya dan mengabdi pada negara.
Adapun suka cita yang dirasakan selama menjadi lurah antara lain, karena waktunya lebih banyak diberikan untuk berkumpul dan melayani masyarakat luas. Tidak peduli, masyarakat itu dari etnis atau suku apa, tetap dilayani dengan baik. Bahkan, setiap saat mendapatkan undangan dari warganya, ia pun dengan senang hati untuk menghadirinya, termasuk jika undangan tersebut berlangsung pada malam hari meski harus meninggalkan keluarga tercintanya di rumah.
Namun begitu, yang menyedihkannya walau telah berupaya maksimal dalam menjalankan tugasnya, namun masih ada saja anggota masyarakat yang merasakan tidak puas sampai menyatakan keberatan. Namun, sekali lagi, hal itu tidak lantas menjadikannya putus asa atau emosi, akan tetapi tetap menebar senyuman pada warga yang komplain itu. Dengan harapan, segala keinginan warganya itu dapat terlayani dengan baik.
Bahkan, belum lama ini ia malah diancam akan dilaporkan oleh seorang warganya ke kantor polisi. Penyebabnya adalah, saat banjir melanda kawasan Kelapadua Wetan, ada pagar tembok milik warga yang jebol diterjang banjir. Atas kejadian itu, warga tetap menyalahkan dirinya sebagai lurah. Alasan warga, lurah tidak segera mengambil tindakan saat wilayahnya tergenang banjir.
Padahal, untuk mengatasi masalah banjir, banyak hal yang harus dibenahi dan melibatkan banyak pihak. Sebab penyebab banjir itu sendiri juga disebabkan ulah warga yang bertindak semaunya sendiri. Seperti membangun bangunan permanen di atas saluran air dan membuang sampah di saluran air. Sehingga saluran air yang ada terjadi pendangkalan dan penyempitan. Akibatnya saat hujan deras, air tak lagi tertampung dan meluber ke pemukiman penduduk.
“Sepertinya masih banyak warga yang belum memahami tupoksi seorang lurah. Padahal, tidak semua masalah menjadi tanggung jawab lurah, ada hal-hal lain yang juga menjadi tanggungjawab unit teknis. Nah hal seperti inilah yang kurang dipahami dan diketahui warga,” katanya. Misalnya masalah banjir, sebenarnya sudah menjadi kewenangan Sudin PU Tata Air untuk melakukan normalisasi saluran air.
Warga yang akan melaporkan ke polisi itu pun berusaha ditengahi oleh petugas bina masyarakat kelurahan setempat. Beruntung, setelah diberikan pemahaman yang cukup, warga akhirnya memahami dan mengurungkan niatnya mempolisikan lurahnya. Bahkan, kini warga yang bersikeras itu kini mulai luluh hatinya dan mengerti kedudukan seorang lurah. Sehingga setiap terjadi banjir, kini warga itu tak hanya melakukan protes, akan tetapi turut andil ke lapangan, bahu membahu mengatasi banjir.
Sumber : Berita Jkt/ Red BGC
 0 Komentar :
Isi Komentar :
|