Projo : Saatnya Tegas Melawan Hoaks, Fitnah, dan Kebencian

Jakarta, BeritaGlobal.com – Diskusi Publik PROJO, “Saatnya Kita Tegas Melawan Hoaks, Fitnah Dan Kebencian”. di Bumbu Desa, Jalan Cikini Raya No.72 RT.14 RW.15, Cikini, Jakarta Pusat. Pada Rabu (28/11/2018).

Turut hadir dalam acara tersebut diantaranya adalah Ketua umum PROJO, Budi Arie Setiadi, Direktur Infopub TKN Jokowi – Ma’ruf (Jubir), Arya Sinulingga, DPP PROJO, Freddy Alex, Jejaring Anti Bohong (JAB), Ikravani Hilma, Koordinator Gerakan Bijaksosmed, Enda Nasution, Moderator, Palti Hutabarat (RCP) dan Ustadzah Tausiah, Umi.

Acara dimulai dengan menyanyikan lagu “Indonesia Raya”,

Lanjutnya, Doa dan Tausiah, ustadzah Umi.

Pengertian Ujaran Kebenciaan yaitu Ujaran yang di lakukan oleh individu atau kelompok dalam bentuk provokasi, hasutan ataupun hinaan kepada individu atau kelompok yang lain dalam hal berbagai aspek seperti ras, kulit warna, etnis, gender, cacat, orientasi, seksual, kewarganegaraan, agama, dan lain lain.

Ketua Umum PROJO, Budi Arishadi, mengatakan,
Penyebaran berita bohong, fitnah atau biasa disebut hoaks di tahun politik seperti saat ini, Semakin menunjukkan pengaruh dan efek yang negatif bagi persatuan dan kesatuan bangsa. Terlebih, Berita bohong atau fitnah yang menyebar, Telah dimanfaatkan untuk kepentingan politik maupun ekonomi tertentu dari pihak yang menghendaki kerusakan dalam hidup bermasyarakat,

“NKRI harus kita jaga, kalau ada pihak – pihak yang mengganggu negara ini”, Hanya satu kata “LAWAN”,ujarnya.

Beredarnya berita bohong, palsu, fitnah atau hoaks, yang menjadi konsumsi sehari – hari masyarakat, Telah dianggap sebagai informasi atau berita yang benar akibat masifnya berita hoaks itu.

Sementara, masyarakat juga tidak memiliki pengetahuan dan sumber yang cukup, Untuk membedakan informasi atau berita yang diperolehnya benar atau salah.

Pemakaian hoaks dengan muatan isu SARA, Harus menjadi kewaspadaan masyarakat agar jangan mau lagi di manfaatkan untuk kepentingan tertentu.
Kemampuan memproduksi hoaks yang jauh lebih banyak dan cepat di banding upaya pencegahan dan pemberantasannnya, harus diantisipasi dengan pembekalan literasi digital dan non-digital, Sehingga masyarakat mampu membedakan hoaks serta tidak mudah di pancing provokasi yang dapat menyebarkan konflik, tutupnya. ( ivan/bg )

Artikel Terkait

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *