YOWIS BEN Jadi yang Terbaik untuk Keluarga, Sekolah, Sahabat dan Gebetan

Chand Parwez Servia Produser Stsrvision Plus kembali hadir hampir setahun lalu Bayu Skak yang saya kenal dari Raditya Dika, menyampaikan keinginannya untuk merealisasikan skenario yang ditulisnya. Akhirnya saya membaca skenario yang ditulis dengan sebagian besar dialog berbahasa Jawa. Uniknya, saya bisa mengerti karena premisnya sangat menarik.Kemudian skenario ini saya minta Bagus Bramanti dan Gea Rexy untuk tulis kembali agar lebih filmis.

Proses kreatif ini berjalan menyenangkan, karena isu yang disampaikan sangat dekat, meliputi keluarga, sekolah masa SMA, persahabatan dan tentunya romantisme. Saya paham bahwa YOWIS BEN ini harus tetap memakai dialog keseharian bahasa Jawa dengan subtitle karena mengambil lokasi suting di Malang, tapi dialog formal tetap menggunakan bahasa Indonesia.

Penggunaan bahasa Ibu di perfilman nasional adalah bukti keberagaman Indonesia.”Si Kabayan Saba Kota (1989) yang sukses secara nasional bukan hanya di Jawa Barat, sebagian dialognya bahasa Sunda, tentunya dengan subtitle bahasa Indonesia.Kemudian ada beberapa film dengan bahasa daerah seperti “Uang Panai”, dan “Turah”. India yang produksi filmnya di atas 800 judul / tahun, hanya kurang dari 15% berbahasa nasional dan sisanya berbahasa daerah yang beragam.

Film YOWIS BEN melibatkan banyak pemain, sebagai berikut : Bayu Skak, Cut Meyriska, Brandon Salim, Joshua Suherman, Glenca Chysara, Aliyah Faizah, Tutus Thomson, Devina Aureel, Arief Didu, Tri Yudiman, Richard Oh, Ria Ricis, Erix Soekamti, Sandy Pas Band, Tretan Muslim, Muhadkly Acho, Uus, Erick Estrada, Billy Boedjanger, Cak Kartolo, Cak Sapari, Sumaisy Djaitov Yanda, Ence Bagus, Yudha Keling, Julee Day, Indra Wijaya, Yoshua Maringka, Ron Weasley, Wayan Ixora, Yudist Ardhana, Anof Zulfiana, Thomi Baraqbah, Aditya Kurniawan SATCF, Gus Hartono, Daniel Mahendra, dll.

Memperkuat marwahnya, YOWIS BEN disutradarai oleh Fajar Nugros yang asli Yogyakarta, sedangkan Bayu Skak selain sebagai penggagas ide cerita dan berperan sebagai tokoh utama juga merangkap sebagai ko-sutradara. Editor senior Wawan I Wibowo sangat bahagia mengerjakan editing film yang juga memiliki 4 buah lagu : Gak Iso Turu, Konco Sing Apik, Mangan Pecel, dan Ojo Bolos Pelajaran yang secara khusus diendorse oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk kampanye “tidak bolos sekolah” Musik dikerjakan oleh Andhika Triyadi, sedangkan sound designer oleh Khikmawan Santosa, yang langsung menawarkan dirinya bersama tim band Crossfade-nya untuk membawakan 1 lagu saat press conference di Jakarta.

Fajar NugrosSang Sutradar Awalnya saya tidak mengenal Youtuber Bayu Skak dan karya-karyanya. Saya mulai menonton karya-karya video Bayu di Youtube setelah Produser Chand Parwez menghubungi saya untuk mengerjakan skenario film berjudul YOWIS BEN. Menariknya, hampir seluruh naskah berbahasa Jawa. Menarik bagi saya karena Pak Parwez yang saya kenal adalah orang Sunda.Maka saya menyelami Bayu dan karya-karya videonya yang ternyata, memiliki kekuatan yang sangat original. Kalangan Youtuber dan Komika menyebutnya sebagai “mas-mas Jawa yang sukses” di dunia sosial media, semua karena kekuatan Bayu adalah karakternya yang orang Jawa biasa. Jadi saya mengerti, kekuatan apa yang dilihat Produser saat memutuskan hendak memfilmkan naskah YOWIS BEN ini. YOWIS BEN adalah wajah Indonesia yang kaya.

Sudah banyak film berbahasa daerah yang sukses. Misal film berbahasa Makasar Uang Panai, dan film berbahasa Jawa pemenang FFI Siti dan Ziarah yang mewakili Indonesia di Oscar.Berbeda dengan Siti dan Ziarah, YOWIS BEN mengambil genre komedi dan menyasar remaja.Beda berikutnya adalah YOWIS BEN memakai bahasa Jawa Timur. Jadi pada awalnya, proyek YOWIS BEN ini digawangi oleh Produser berbahasa Sunda, Bayu yang berbahasa Jawa Timur, penulis skenario Bagus Bramanti yang berbahasa Jawa Tengah dan saya yang dari alias Yogya. Untungnya, Bayu Skak ikut duduk sebagai co-Director sehingga penerjemahan bahasa yang berbeda antara Jawa Tengah dan Jawa Timur berjalan lancar.Dan spirit karakter Bayu dari video-video Youtube nya tetap terjaga dalam filmnya.

Walau berbahasa Jawa sekitar 80%, kisah YOWIS BEN tetaplah universal.Ini adalah kisah sekumpulan remaja yang tengah mengejar pembuktian bahwa mereka adalah remaja yang mampu berkarya, bisa berbuat sesuatu yang dibanggakan lingkungan dan keluarganya.Tema universal bagi remaja ini, kami harap dapat terkomunikasikan dengan baik pada penontonnya kelak. Mereka yang tak berbahasa Jawa, bisa dengan mudah paham lewat subtitle yang didesain mudah dicerna dan tak mengurangi komedi filmnya.

Saya berterimakasih atas kesempatan dari Produser Chand Parwez dan Bayu Skak karena sudah dipercaya mengerjakan film ini. Saya juga berterimakasih pada seluruh pemain dan kru yang telah bekerja keras selama proses produksinya. Juga pada tim pasca produksi, editor Wawan Wibowo, juga Penata Musik Andhika Triyadi dan Sound Designer Khikmawan Santosa dengan tim-nya yang walau tak bisa berbahasa Jawa, namun tetap mampu bekerja dengan baik.

Saya berharap, film ini sangat dekat dengan remaja di seluruh Jawa Tengah dan Jawa Timur, serta mampu dinikmati oleh remaja di daerah lain di Indonesia, serta menularkan semangat berkarya dengan tetap membawa jati diri daerah masing-masing untuk kemajuan Indonesia.

Bagus Bramanti Penulis Skenario YOWIS BEN adalah film lokal dengan isu universal. Membahas tentang problem remaja seputar pencarian jati diri, rasa kesepian, semangat pertemanan dan cinta sejati. Semua terangkum dalam balutan budaya kota Malang yang menjadi salah satu urat nadi penting dalam industri kreatif Jawa Timur.

Kehadiran Bayu Skak yang menginisiasi semangat kedaerahan secara otentik dan nyambung dengan pendekatan kekinian. Besutan penyutradaraan Fajar Nugros bareng Bayu Skak yang mampu menghadirkan Malang sebagai semesta cerita secara utuh, dan pendekatan visi film making dalam sentuhan khas Bapak Parwez yang selalu berani menampilkan eksperimen-eksperimen baru, membuat saya, Bagus Bramanti dan Gea Rexy, yang menangani penulisan skenario, cukup percaya diri untuk membuat klaim, bahwa YOWIS BEN bukan hanya layak diterima industri film, namun juga layak dirayakan sebagai salah artefak emosional generasi muda lokal pada jaman now.

BAYU (Bayu Skak) menyukai SUSAN (Cut Meyriska) sejak lama.Namun karena dia merasa minder dengan keadaan dirinya yangpas-pasan, Bayu memutuskan memendam perasaan itu.

Namun hari-hari Bayu berubah sejak Susan mengirim voice chat ke ponsel Bayu, yang membuatnya kegeeran luar biasa mengira Susan memberi isyarat agar didekati.Ternyata Susan hanya memanfaatkan Bayu untuk membantunya mensuplai pecel untuk konsumsi teman-teman OSIS. Bayubertekad merubah dirinya menjadi lebih populer dari ROY (Indra Wijaya), pacar Susan, yang dikenal piawai sebagai gitaris band sekolah mereka,

Bayu berinisiatif membentuk band bersama DONI (Joshua Suherman) – sahabat dekatnya,YAYAN (Tutus Thomson) – seorang tukang tabuh beduk sebagai drummer dan NANDO (Brandon Salim) – siswa ganteng yang jago keyboard.Mereka sepakat menamakan band mereka YOWIS BEN.

Namun rupanya langkah Bayu dan teman-temannya tidak mudah. Dalam masa-masa YOWIS BEN tumbuh di dunia musik kota Malang, perlahan tapi pasti celah perpecahan antar personil YOWIS BEN mulai tampak. Berhasilkah Bayu mempertahankan band-nya dan mendapatkan Susan?

Saksikan YOWIS BEN di bioskop mulai 22 Februari 2018

Artikel Terkait

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *