Korban Gempa 7 SR di Lombok Jadi 98 Meninggal, 236 Luka-Luka Terbanyak di Lombok Utara

Hingga Senin (6/8) malam kemarin, jumlah korban akibat gempa 7 Skala Richter (SR) yang mengguncang wilayah Lombok, Sumbawa dan Bali pada Minggu (5/8) pukul 18.46 WIB tercatat sebanyak 98 orang meninggal dunia, 236 orang luka-luka, ribuan rumah rusak dan pengungsi mencapai ribuan jiwa yang tersebar di berbagai lokasi.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho memperkirakan, jumlah korban dan kerusakan akibat dampak gempa akan terus bertambah. 

Mengingat belum semua daerah terdampak gempa dapat dijangkau petugas Tim SAR gabungan. Disamping juga terdapat dugaan adanya korban yang tertimbun bangunan yang roboh belum dapat dievakuasi oleh petugas.

“TIM SAR Gabungan terus menyisir daerah-daerah terdampak gempa untuk melakukan evakuasi, penyelamatan dan pertolongan kepada korban. Pendataan masih terus dilakukan oleh aparat,” kata Sutopo melalui siaran pers BNPB, Senin (6/8) malam.

Menurut Sutopo, korban meninggal dunia paling banyak terdapat di Kabupaten Lombok Utara karena wilayah inilah yang parah terkena dampak gempa. Dari 98 orang meningggal dunia akibat gempa, terdapat di Kabupaten Lombok Utara 72 orang, Lombok Barat 16 orang, Kota Mataram 4 orang, Lombok Timur 2 orang, Lombok Tengah 2 orang, dan Kota Denpasar 2 orang.

Sebagian besar korban meninggal, jelas Sutopo, akibat tertimpa bangunan yang roboh. Ia memastikan, semua korban meninggal dunia adalah warga negara Indonesia, dan belum ada laporan wisatawan asing yang menjadi korban akibat gempa.

Evakuasi Terus Dilakukan

Mengenai upaya evakuasi, penyelamatan dan pertolongan kepada korban, menurut Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, terus dilakukan oleh Tim SAR gabungan.

Ia menyebutkan, evakuasi korban yang tertimpa masjid roboh di Desa Lading-Lading Kecamatan Tanjung Kabupaten Lombok Utara masih dilakukan. Alat berat dikerahkan sejak Senin (6/8) sekitar pukul 15.00 WIB. Satu alat berat digunakan untuk menghancurkan atap dan dinding masjid yang menimpa korban. Tim SAR gabungan dari Basarnas, TNI, Polri dan relawan masih melakukan evakuasi.

“Belum dapat diperkirakan berapa jumlah korban yang tertimpa masjid roboh. Korban saat itu sedang salat Isya berjemaah tiba-tiba diguncang gempa dengan kekuatan 7 SR sehingga bangunan masjid roboh dan langsung menimpa jemaah di bawahnya,” ungkap Sutopo.

Adapun mengenai jumlah pengungsi, Sutopo belum dapat memastikan. Namun ia memperkirakan ribuan pengungsi tersebar di berbagai lokasi. Bantuan juga belum dapat didistribusikan merata.

“Selain terbatasnya jumlah logistik yang ada, pengungsi juga tersebar di berbagai lokasi sehingga menyulitkan pembagian bantuan, khususnya di Kabupaten Lombok Utara,” terang Sutopo.

Sementara upaya wisatawan yang ada di Gili Terawangan, Gili Air dan Meno, lanjut Sutopo, masih dilakukan hingga malam ini. Ia tidak mengetahui berapa jumlah wisatawan, baik wisatawan asing maupun domesti yang berada di Gili Terawangan, Gili Air dan Meno.  “Perkiraan awal terdapat sekitar 1.000 orang. Ternyata jumlahnya lebih banyak,” ujarnya.

Tim SAR gabungan yang dipimpin Basarnas hingga Senin (6/8) pukul 15.00 WIB, lanjut Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB itu, telah berasil mengevakuasi sebanyak 2.700 orang wisatawan asing dan domestik dari ketiga pulau tersebut.

Ia menyebutkan, wisatawan dievakuasi ke Pelabuhan Bangsal Kabupaten Lombok Utara menggunakan 9 kapal yaitu 1 unit kapal SAR Mataram, 1 unit kapal KAL Belongas, 1 unit kapal SAR Denpasar,  1 unit kapal Pelni, 1 unit kapal Dharma Citra Tiga, 3 unit kapal cepat/ferry Eka Jaya, dan 1 unit kapal cepat/ferry Bali Nusa. Ribuan wisatawan dan karyawan hotel masih dalam proses evakuasi keluar dari ketiga pulau tersebut.

Menurut Sutopo, evakuasi wisatawan adalah inisiatif dari wisatawan. Mereka trauma dengan guncangan gempa 7 SR yang diikuti peringatan dini tsunami. Mereka juga khawatir adanya gempa susulan yang lebih besar diikuti tsunami karena banyak beredar informasi yang menyesatkan (hoax) bahwa akan terjadi gempa dengan kekuatan 7,5 SR yang diikuti tsunami di Lombok.

Hoax tersebut beredar di luar  wilayah Lombok sehingga membuat warga dan wisatawan takut. Informasi tersebut tidak benar dan menyesatkan. Gempa tidak dapat diprediksi secara pasti, berapa magnitudenya, dimana, dan kapan secara pasti,” tegas Sutopo.

Sutopo menjelaskan, gempa susulan dari gempa 7 SR pasti terjadi tetapi dengan intensitas yang lebih kecil. Hingga 6/8/2018 pukul 17.00 WIB telah terjadi gempa susulan sebanyak 176 kali gempa dengan intensitas kecil.

Ia mengimbau masyarakat dan wisatawan di NTB dan Bali tetap tenang dan meningkatkan kewaspadaannya. Jangan terpancing pada informasi-informasi yang menyesatkan. (Humas BNPB)

Sumber : http://setkab.go.id

Artikel Terkait

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *