Komunitas Peduli NKRI Mengadakan Diskusi Melawan Lupa 1998 Dan Pencerahan Politik Milenial, Sejarah dan Arah Politik Milenial

Jakarta, Acara dengan narasumber Christianto Wibisono (Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia), Grace Natalie (Ketua Umum PSI), Tsamara Amany (Politisi PSI).

Dalam acara diskusi ini narasumber Christianto Wibisono selaku analis ekonomi dan saksi tragedi 1998 bercerita tentang perjalanan politik bangsa Indonesia dan Ekonomi Global. Menurutnya tragedi Mei 98 memiliki pesan tersendiri bagi generasi millennial, untuk dapat memaknai peristiwa sejarah Indonesia pada masa Orde Baru itu.

“Tragedi Mei 1998 merupakan kerusuhan rasial terhadap etnis Tionghoa yang terjadi pada 13-15 Mei 1998, khususnya di Ibu Kota, namun juga terjadi di beberapa kota lain. Kerusuhan ini diawali dengan krisis moneter di Asia dan dipicu tragedi Trisakti yang menewaskan empat mahasiswa Universitas Trisakti saat demonstrasi 12 Mei 1998. anak muda terutama generasi milenial harus aktif ambil bagian pada panggung politik dalam rangka membangun ekonomi bangsa melalui semangat idealisme ” papar Christianto dalam acara tersebut, Sabtu (29/09).

Melawan lupa. Mengingatkan suatu sejarah yang pernah terjadi adalah peristiwa yang membuat negeri kita ini timbul suatu keos yang sangat mengerikan.
Hal ini dikatakan oleh Ketua We Love NKRI Community, Ganjar Bukan Pranowo(GBP) setelah usai acara diskusi Melawan Lupa 1998 dan Pencerahan Politik Milenial di Rumah Makan Angke, Jl.Zainul Arifin, Jakarta (29/9/18).
Fakta Sejarah ini perlu kita ingatkan kepada Siapapun, agar hal seperti ini tidak terjadi lagi.di kemudian hari di NKRI yang kita Cintai ini, ujar GBP.

Sementara, GRACE NATALIE Ketua umum Partai Solidaritas Indonesia atau PSI menawarkan politik baru yaitu politik transparansi dan profesionalitas,

“kami menawarkan kepada masyarakat mulai dari seleksi caleg kita buka kepublik, ketika di wawancara seperti apa dan hasilnya bagaimana, kita juga sudah siapkan flatfrom dan siapkan tanda tangan kontrak caleg, dan itu bagi caleg wajib melaporkan kepada masyarakat kinerjanya setiap hari ketika menjadi anggota legislatif” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama Ganjar Bukan Pranowo(GBP) menyampaikan dirinya ingin mengedukasi serta menciptakan damai di NKRI. Menurut GBP perlu dicermati dengan seksama disini adalah edukasi bagi yang masuk DPT( Daftar Pemilih Tetap) pada PEMILU 2019.”Bagaimana kita bisa menjadi PEMILIH yang Cerdas, Cermat & Benar“, ungkap GBP.

Berdasarkan Survey dilapangan yang dilakukan GBP yang terjadi bila adanya Money Politik, ternyata menurut GBP jawaban dari pemilih ada 3 (tiga) kategori utama.

Kategori Pertama :

1. Pemilih ambil uang tersebut dan kemudian dipilih sesuai arahan yang memberi uang.

Fakta Pertama ; bila ada orang yang memberikan uang sebesar Rp 500.000 untuk memilih pilihan tertentu Dia akan ambil uang tersebut dan pada saat pemilihan dia akan memilih sesuai arahan orang tersebut.

Kategori Kedua :

2. Pemilih ambil uang tersebut kemudian untuk memilih tetap berdasarkan hati nuraninya.

Fakta Kedua ; bila ada orang yg di berikan uang sebesar Rp 500.000 untuk memilih pilihan tertentu dia akan ambil uang tersebut dan pada saat pemilihan dia tidak memilih sesuai arahan orang tersebut tetapi memilih berdasarkan hati nurani sendiri.

Kategori Ketiga :

3. Pemilih tidak mengambil uang tersebut dan tetap dia memilih berdasarkan hati nuraninya.

Fakta ketiga ; bila ada orang yg di berikan uang sebesar Rp 500.000 untuk memilih pilihan tertentu dia TIDAK AMBIL uang tersebut dan kita memilih berdasarkan hati nuraninya sendiri. Karena bila mengambil Uang tersebut merasa berdosa

Ketiga Fakta diatas mempunyai alasan masing-masing dari Calon Pemilih.

Pada Fakta Ketiga bisa terjadi akan mendapat Intimidasi, dikucilkan bahkan dimusuhi oleh pihak pemberi dan kroninya.

Pada Fakta Kedua yang banyak dan Lazim dilakukan oleh Calon Pemilih tanpa merasa berdosa.

Pada Fakta Pertama juga banyak dilakukan oleh Calon Pemilih Mengingat Kebutuhan dan merasa tidak mengerti dampak yang mereka perbuat.

Misalnya kita yang memilih Fakta Pertama apa sebenarnya yg telah kita lakukan ?
Kita telah menjual Daerah(PILKADA) atau Negara(PEMILU) serta Menjual Harga diri Kita dengan nilai yg sangat rendah, Mengapa ?
Mari kita cermati dengan Saksama :
Rp.500.000,- untuk 5 tahun. berarti Rp.100.000,-/tahun. dan dibawah Rp.300,-/hari.
Apa yang dapat kita lakukan dengan uang Rp.300,-/hari. ?

Ijinkan saya mengutip pernyataan Frans Magnis Suseno dibawah ini.
“Pemilu itu Bukan Untuk Memilih yang Terbaik, Tetapi Untuk Mencegah yang Terburuk Berkuasa”
(Romo Prof. Dr. Frans Magnis Suseno)

Bagaimana Kita harus bersikap bila menghadapi hal demikian ?
Terima Uangnya, Salurkan Uang tersebut ke Panti Asuhan atau Lembaga Sosial lainnya dan Pilih Sesuai Hati Nurani kita.
Pilih PEMIMPIN yang kita yakini dapat membawa NKRI kearah yang lebih baik kedepan.
Tentunya Hati Nurani kita yang sangat berperan ujar GBP.

 

 

Artikel Terkait

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *