Bambang Soesatyo Nilai Pencitraan Cuma Bikin Capek Jika Tidak Otentik

Jakarta, Berita Global — Disrupsi dalam komunikasi politik membuat siapapun bisa membangun persepsinya di masyarakat. Namun, jika tidak otentik, mereka hanya capek karena terus berpura-pura.

Hal itu dikatakan oleh ketua DPR RI Bambang Soesatyo dalam diskusi politik di Kaffein, The Foundry, SCBD, Jakarta Selatan, hari ini, Kamis (20/12).

“Orang Indonesia suka dengan yang natural. Presiden Jokowi kalau posting foto meresmikan proyek sedikit yang merespons. Kalau bersama keluarga atau sama anak-anaknya pasti banyak yang suka,” kata Bamsoet, sapaan akrabnya

Bamsoet juga mengalaminya. Setiap kali dia posting peresmian acara di akun Instagram miliknya, responsnya tidak terlalu banyak. “Tapi begitu saya post soal motor, banyak yang suka,” kata Bamsoet yang  dikenal sebagai penghobi motor gede tersebut.

Bamsoet mengakui dirinya tidak terlalu suka berpura-pura. Hobi motor gede dan mobil listrik tidak dia tutup-tutupi hanya agar terlihat sederhana di mata masyarakat. “Saya sewajarnya saja. Justru dengan saya apa adanya, banyak masyarakat yang mengajak saya berkomunikasi. Dari situlah engagement positif saya tercipta,” katanya.

Hal senada diungkapkan CEO Polaris Iman Sjafei. Menurut dia, branding tiap politikus berbeda. Tidak bisa main copy dan paste seperti wali Kota Surabaya Tri Rismaharini yang mencitrakan dirinya marah-marah ke bawahannya dan orang tetap respek karena memang sudah jadi bawaannya untuk ngotot dalam pembenahan pelayanan publik.

“Zumi Zola (Gubernur Jambi) berusaha copy paste Risma. Ternyata malah dia yang mendapat citra negatif. Begitu juga Ridwan Kamil yang kerap menyindir jomblo dalam setiap unggahannya. Kalau ada politikus lain yang meniru bisa aneh. Nggak match,” katanya.

Mengenai oppurnitynya, iman menambahkan bahwa perkiraan dari semua topik belum ada yang bermain, apakah topik seperti grace yang melihat topik poligami belum ada yang mainkan, sehingga dia memainkan topik itu.

“Nah itu kalo dari ini bisa ditemukan dari hasil ini.  kalo dari survey lapangan kita ambil itu tadi, randomisasi sampel lapangannya,” ungkapnya.

Ia belum bisa memastikan hal itu dalam tingkat efektifitasnya.  namun, melihat dari paparan data yang ditemukannya , poin tersebut akan dipakai politisi untuk mencari apa yang harus diperbaiki ,”  wah kayaknya publik suka nih. saya tingkatkan saja deh. kita kurangnya apa, kita akan perbaiki, atau dibuang saja sama sekali, ” tuturnya.

Sementara, di era disrupsi, Bamsoet mengakui pola komunikasi politikus sudah banyak berubah. Saat ini bahkan peran konsultan politik dalam mengelola percakapan di media sosial tidak terlalu sentral. Sebab, politikus sejatinya bisa mengelolanya sendiri.

“Misalnya seperti yang saya lakukan. Saya melihat apa selera dan kebiasaan orang-orang yang menyukai post saya. Dari situ saya bisa membuat kesimpulan-kesimpulan sendiri,” kata politikus Partai Golkar tersebut.

Modal engagement positif menjadi modal bagi Bamsoet untuk mengelola komunikasi dengan masyarakat yang banyak mengeluhkan kinerja DPR. “Ada tiga isu yang saya hadapi di dewan. Korupsi, hanya sedikit RUU yang disahkan, sama anggota DPR yang malas,” katanya.

Untuk wakil rakyat yang kerap membolos, kata Bamsoet, tidak semuanya mangkir dari tugas. “Biasanya mereka sedang ke turun ke konsituennya. Bertemu masyarakat untuk menyerap aspirasi. Itu bukan membolos tapi juga bagian dari tugas mereka seperti diatur undang-undang,” katanya. ( ivan/bg )

 

Artikel Terkait

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *